Jelajah Gizi Minahasa ep.2/3 : Eksotika Pasar Tradisional & Pantai Bahowo

Sebuah perjalanan akan menjadi sangat menyenangkan ketika direncanakan dengan baik. Maka saya sangat berterimakasih kepada SariHusada dan DetikCom atas 'hadiah' perjalanan yang sarat pengetahuan ini. Rangkaian acara terencana dengan sangat baik dan detail, dan saya yakin seluruh peserta merasakan hal yang sama, mensyukuri apa yang telah kita jalani. Sebuah perjalanan indah yang akan kami ingat selamanya.

Kegiatan #jelajahgiziminahasa hari kedua diawali dengan sepiring nasi kuning khas Minahasa (sarapan di hotel) dan pemandangan Gunung Lokon dari teras hotel tempat kami menginap.
Agenda perjalanan hari itu adalah mengunjungi Pasar Tradisional dan Pantai. Dua tempat yang selalu mendapat ruang di hati saya. Traveling tidak akan lengkap tanpa mengunjungi Pasar Tradisional.

Pasar Beriman Tomohon, 'an extraordinary market'.
Memasuki area pasar, ada beragam hal yang membuat mata ini sibuk lirik sana-sini. Banyak barang dagangan yang begitu menarik perhatian. Mulai dari berjenis-jenis pisang yang populer di Minahasa, termasuk Pisang Goroho yang sempat saya bahas di postingan episode 1, hingga bambu khusus yang biasa dipakai untuk membuat nasi jaha. 
Saya merasa seperti masuk ke dalam 'playground' yang sangat luas. 

Aktivitas di pasar adalah... Games!
Game pertama, belanja kelompok. Kelompok seru kami terdiri dari saya, Zata, Hazliansyah dari Republika Online. Sebenarnya ada Hence dari Kompas TV, yang tidak hadir di hari kedua dan ketiga. 
Sebagai penggemar fanatik acara 'Amazing Race' dan sebagai ibu-ibu penggemar pasar tradisional... game ini menjadi menarik sekali. 
Kami diberi 4 pertanyaan yang mana jawabannya adalah clue sebagai daftar belanjaan, uang belanja sebesar Rp 30.000,-. dan waktu yang diberikan hanya 15 menit.
Teng...tong....
Dan kurang dari 5 menit kami berhasil berlari-lari di pasar dan menemukan apa yang kami perlukan. Sisa uang belanja Rp.18.000,-!! Keren banget kan!
Rasanya kekompakan kami ini yang akhirnya mengantar kami menjadi kelompok terbaik  yang diumumkan di acara gala dinner pada malam harinya.
Yang cukup menarik, keseluruhan hasil belanja dari 6 kelompok di kumpulkan dan pembahasan kuliner dan gizi mengalir langsung dari pakarnya, Prof. Ahmad. 
Prof. Ahmad sedang menjelaskan secara gamblang manfaat bunga pepaya, sayuran khas Minahasa.
Acara selanjutnya, menikmati pasar. Masing-masing dari kami disibukkan memotret, membuat video dan diselingin dengan berbelanja. Yuk, mariii... ...

Secara umum, jenis barang yang dijual di pasar tradisional adalah sama; mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, daging, ikan, seafood, bumbu dapur hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari. 
Yang membuat sebuah pasar unik dan berbeda dibandingkan dengan pasar tradisional lainnya adalah barang dagangan 'khusus' yang dijual untuk kebutuhan masyarakat/etnik tertentu yang tinggal di sekitar pasar tersebut. 
Jadi lokasi sebuat pasar tradisional-lah yang berkontribusi pada keunikan aktifitas pasar tersebut.

Untuk dapat mengerti keunikan sebuah pasar tradisional, cobalah untuk sedikit mengenal masyarakat sekitar yang kehidupannya didukung oleh keberadaan pasar tersebut terutama budaya makan yang mereka jalankan.
Selama di pasar ini, saya berusaha memotret keunikan yang belum tentu bisa kita temukan di pasar lain.

Los pasar sayur dan buah. Aneka sayuran, bumbu dapur dan buah yang cukup sering digunakan di 'dapur Minahasa' tersedia berlimpah ruah di sini. Berjenis-jenis pisang, pepaya (inget gohu dong), aneka bumbu, daun-daun eksotik, lengkap!
Menemukan sayur yang sudah dibersihkan dan dipotong-potong, siap di masak, mungkin sudah jamak. Tapi baru kali ini saya menemukan sayur mentah siap masak yang telah dicampur beberapa jenis dan dijual 'literan'. Kebayangnya mau masak capcay tinggal beli sayur campuran tersebut.
Cacahan jantung pisang (kiri) dan gulungan daun salam (kanan)
Keduanya sering digunakan untuk lauk/bumbu sehari-hari.
Lemon Cui (kiri) dan beberapa bumbu segar serta daun kemangi yang dijual dalam satu paketan (kanan)
Biji Pala, rempah khas yang banyak ditemui di Indonesia bagian Tengah dan Timur. Sering digunakan sebagai bahan pemberi rasa pada kue-kue tradisional Minahasa (foto kiri). Nasi Daun (mirip buras) yang dibungkus dengan Daun Nasi, disajikan bersama tumis daun pakis dan sambal rica. Enak banget! (foto kanan)
Menyaksikan pembuatan kue Apang Bakar. Live Show!
Di bagian los pasar ini cukup banyak penjual kue tradisional Minahasa. Bisa dibayangkan ...aroma kayu manis, bumbu spekoek maupun pala semerbak di area ini.
Beginilah proses pembuatan Apang Bakar. Dengan cetakan yang cukup tebal yang diletakkan di atas api kecil, perlahan tapi pasti... Kue Apang ini menggoda pengunjung pasar.
Cukup lama saya 'nongkrongin' ibu ini. Keren banget!
Beliau ngerjain dua jenis kue bersamaan. Bahasa kerennya 'multitasking'.
Tidak ada satupun kuenya yang gagal atau gosong. Kue Cucur bentuknya sempurna. Kue Apang mengembang cantik.
Inilah yang paling dicari-cari. Penjual Ikan Cakalang dan Ikan Roa Asap.
Kalau sering makan Sambal Roa, nah kira-kira seperti inilah bentuk ikan roa yang telah mengalami proses pengasapan. Berjejer rapi dengan kepitan bilah bambu, dan diasap sekaligus dengan jumlah cukup banyak.
Cakalang Fufu. Angan-angan untuk memotret Cakalang Fufu langsung di Minahasa akhirnya tercapai. Yes!
Cakalang yang telah diawetkan disebut Cakalang Fufu. Bentuknya unik, ikan dibelah lalu diikatkan sedemikian rupa pada sebatang bambu dan setelah diasap bagian badannya akan melengkung. Ikan Cakalang inilah andalan kuliner Minahasa. 
Tidak hanya Ikan Cakalang yang diasap dengan cara dilengkungkan, tapi Ikan Tuna pun diasap dengan cara yang sama. Cara membedakannya adalah dengan memeriksa bagian kulitnya. Yang ada strip hitam memanjang adalah ikan Cakalang. Perlajaran penting yang saya dapatkan dari penjual ikan asap di Pasar Tomohon ini
Pasar ini cukup dikenal dengan 'Pasar Ekstrim' karena menjual aneka hewan yang 'tidak biasa' dikonsumsi masyarakat umum, dan yang tentunya akan dikonsumsi pembelinya di sini. Banyak pengunjung yang menghindari memasuki area ini. Letaknya agak kebagian belakang pasar, terpisah dari pasar sayur-buah ataupun bagian kue-kue tradisional. Mulai dari ular, babi, kelelawar, hingga anjing maupun tikus hutan, saya temukan di sana.
Sejujurnya area ini paling membuat saya penasaran. Maka itu koleksi foto-foto saya cukup lengkap di area ini. Yup, nyali saya sebatas motret, belum sampai mengkonsumsinya.
Ikan Mujair, ikan air tawar yang banyak ditemui di Danau Tondano. Salah satu pilihan lauk yang cukup populer di kalangan masyarakat Minahasa.
Sebenarnya masih ada beberapa pojok Pasar Tomohon ini yang belum sempat saya eksplorasi. Sayangnya drama nyaris tertinggal bis pun terjadi. Saya lupa waktu, yes!
Pertama, saya memang keasyikan motret. Kedua, jam tangan saya masih ikutan WIB (Waktu Indonesia Barat). Terimakasih buat semua rekan-rekan yang berkenan nungguin saya. 
Dari Pasar Beriman Tomohon, kami langsung menuju destinasi selanjutnya, Pantai Bahowo.

Mengeksporasi Pantai Bahowo

Dari kejauhan, keindahan pantai ini sudah mulai menggoda peserta #JelajahGiziMinahasa. 
Dan begitu tiba, hmm beneran indah sekali. Kami disambut udara yang bersih, masyarakat yang ramah dan 'homemade' makan siang yang sangat lezat.
Laut biru mengintip malu-malu diseberang sana.
Hidangan laut dan sayuran khas Minahasa, dimasak di rumah penduduk setempat.
Lezatnya tidak tertandingi!
Gohu. Yang di gelas kaca itu namanya Gohu. Semacam rujak atau asinan, berkuah pedas manis. Enak dan segar. Cocok buat hidangan pencuci mulut setelah makan aneka seafood dan sayuran pedas. 
Agenda penting hari ini adalah sedikit mempelajari tentang keberadaan dan fungsi hutan mangrove dan yang paling menarik adalah ... kami bisa ikut terlibat dalam bakti sosial menanam bibit mangrove di lahan yang masih gundul. 

Pusat Rehabilitasi dan Pembibitan Mangrove Bahowo
Apa sih fungsi hutan mangrove? 
yang utama adalah untuk menahan/memecah ombak laut untuk melindungi rumah masyarakat yang tinggal di daerah pesisir. 
Sebelum makan siang, kami sempat berbincang dengan Mbak Sheila dari Manengkel Solidarity, LSM yang memberi dukungan pada kegiatan masyarakat sekitar Bahowo. Salah satu program yang sangat menarik adalah dengan menyelenggarakan Sekolah Se Pantei untuk anak-anak kelas 4-6 Sekolah Dasar. 
Mereka diberi pendidikan lingkungan secara bertahap, yang dibagi atas level Messenger, Transformer dan Agen of Change.
Dan menurut Ibu Nova, yang adalah Ketua Kelompok Tunas Baru Bahowo, hutan mangrove terluas yang tersisa di Minahasa adalah di Bahowo ini, sekitar 66 ha. Sebagian lagi sudah tidak terurus. Karenanya cukup lega mengetahui banyak pihak yang perduli dengan pelestarian hutan mangrove ini, termasuk PT.Danone-Aqua. 
Melihat bibit mangrove yang dikembangnbiakkan, dan mudah-mudahan semuanya bisa tumbuh subur dan bermanfaat untuk masyarakat Bahowo.
Selama proses penanaman, saya tidak sempat memotret, karena tangan dan kaki yang penuh lumpur. Tidak mungkin pegang kamera dong.


Begitu kembali dari penanaman bibit mangrove, ada dua pilihan kegiatan yang bisa diikuti. 
Snorkeling atau Manengkel. Kalau pilihan pertama, semua sudah tahu gimana nyelam kan. Kalau manengkel ngapain?
Manengkel adalah kegiatan mengumpulkan ikan yang terdampar di karang saat laut sedang surut. Awalnya saya pikir ikan tersebut akan dilepas kembali. Ternyata tidak. Ikan hasil manengkel itulah yang dikonsumsi masyarakat sekitar. 
Saya pilih ikutan manengkel bersama anak-anak pantai. Takjub juga melihat anak-anak kecil main di antara karang. Semakin takjub saya melihat bermacam biota laut dibalik air yang jernih itu. 
  


Setelah puas bertanam bibit mangrove, menikmati Pantai Bahowo serta aneka kuliner pesisir Minahasa, akhirnya tiba saatnya kami menuju Kota Manado. Menikmati datangnya senja dari balik jendela bis. Aihh...

Kegiatan padat seharian ditutup dengan Gala Dinner. Acara yang cukup seru dan menyenangkan. Penari Minahasa, membawakan Tari Maengket dan Tari Matrili. 
Dilanjutkan dengan makan malam dan pengumuman berbagai games seru lainnya. 


Minahasa memberi banyak pelajaran berharga untuk saya, tentang gizi dan kuliner, photography hingga persahabatan. Bayangkan, ketika nama peserta #JelajahGiziMinahasa diumumkan, tidak satupun nama familiar buat saya. Tetapi dalam sekejap, kami bisa cukup akrab, dipersatukan dengan hobby menulis.
Malam itu keberuntungan cukup berpihak pada saya. Grup seru kami menjadi Juara 1 Grup Terbaik dan Juara 1 Photography. Surprisingly, saya pun menang doorprize. Ehm... handphone baru nih. Saatnya belajar nge'Vlog' seperti teman-teman seperjalanan saya.
--------------------
Masih ada 1 episode lagi.
Sampai jumpa di episode ke 3, Menikmati Eksotika Kuliner Manado

Comments

Putra Agung said…
Suka tulisannya sama foto2nya mbak Van :D
Bikin penasaran jalan-jalan kesana, makanan2 favoritku haha. Btw yg Gohu itu dibuat dari apa yak?

Eh bakalan ngevlog jg nih mbak? ;p
Maya Siswadi said…
Mba vaaann, fotonya kece kece bangeeett. Mupeeeng
aurabiru said…
Aih. Sukaaa. Tulisannya lengkap dan mengalir, foto2 nya keren dan mendukung keseluruhan tulisan mbak Van
Nely said…
Seperti biasa foto2nya keren bikin pengen ke minahasa juga