ADV3

Thursday, September 05, 2019

Alunan Budaya di Desa Sindang Barang.

''hayuk, ulin sareungan...''  "ayo main bareng..."
''... tah gantian jajangkunganna''.  "...gantian dong engrangnya"
''euleuh, seueur tamu ieu enjing''. "wah, banyak tamu pagi ini"

Suara ceria anak-anak Desa Sindang Barang yang sedang berlarian di antara lembutnya belaian sinar matahari pagi dan alunan merdu kendang serta angklung berukuran besar menjadi sambutan hangat kedatangan kami di akhir pekan dua minggu yang lalu.


Dalam sekejap, kepenatan yang terbawa dari ibukota sirna diganti kesegaran serta kedamaian. Udara segar dan bersih begitu terasa memberi kenyamanan.
Bersama rekan-rekan peserta Travel Workshop yang diadakan oleh ID Corners, saya berjalan perlahan melewati lapangan hijau yang sangat terawat. Imah gede berdiri kokoh di sisi kiri sebelum saya menyusuri deretan leuit / lumbung yang sebagian sedang mengalami proses renovasi serta beberapa pasangrahan / penginapan menuju bale riungan / aula desa.
Seperti tipikal arsitektur tropis tradisional, bangunan-bangunan tersebut menggunakan material dari bahan-bahan alami; kayu serta anyaman bambu. Bagian atas bangunan berupa atap miring model pelana (khusus untuk leuit) dan limas (imah gede & pesanggrahan) masih berbahan ijuk yang dilapisi dengan daun kirai pada bagian dalamnya. Semua masih mempertahankan keasliannya, baik dari bentuk maupun bahan bangunan. Di sinilah saya makin terpana dengan kearifan lokal yang tetap dilestarikan.
Imah Gede atau Rumah Besar, yang merupakan tempat berkumpul dan bermusyawarah masyarakat dengan tetua adat dan kokolot (sesepuh kampung adat).
Leuit atau Lumbung, sebagian sedang direnovasi. Bahan atap berupa ijuk dan daun kirai diganti setiap 5 tahun sekali.
Di benak saya saat itu, 'kog saya baru tahu ada desa setentram ini tak jauh dari Ibukota'. Ternyata 10 tahun bermukim di Jakarta Selatan yang notabene tidak terlalu jauh dari Bogor, tidak menjamin saya cukup mengetahui tempat-tempat menarik yang seharusnya dapat dengan mudah saya kunjungi.
Desa Budaya Sindang Barang, terhampar indah pada ketinggian 375m dpl di kaki Gunung Salak, tepatnya Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 
Sebenarnya letaknya hanya berjarak 5 km dari Kota Bogor, hanya saja jalan menuju Desa tersebut cukup berliku dan mendaki. Perlu kendaraan yang cukup kuat untuk mencapai Desa tersebut.

Satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah sebutan Desa Budaya yang tersemat di depan nama desa tersebut.
Ada ribuan desa di Tanah Air kita ini, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat 83.931 wilayah administrasi setingkat desa di Indonesia pada 2018. Tetapi tidak semua bisa menyematkan titel Desa Budaya tentunya.
Desa budaya adalah desa yang mengekspresikan, mengembangkan, memelihara, mengkonservasi potensi desa tersebut yang berkaitan dengan kebudayaan.
Sebagian dari kita pasti cukup familiar dengan Kampung Baduy di Banten, Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat atau Desa Panglipuran di Bali. Itulah beberapa contoh Desa/Kampung Adat yang hingga kini dipelihara kelestarian budayanya. 'Gelar' desa budaya yang disandang oleh tempat tersebut menjadikan desa tersebut lebih memiliki kesadaran serta komitmen untuk menjaga warisan budaya yang dimiliki.

Jika menoleh pada latar belakang sejarahnya, Desa Sindang Barang diyakini sudah ada sejak abad ke XII. Tertulis dalam Babad* Pajajaran dan dalam Pantun Bogor, bahwa Sindang Barang diyakini sebagai kerajaan di bawah Prabu Siliwangi dengan Kutabarang sebagai ibukotanya. Selain itu, Sindang Barang adalah keraton tempat tinggal salah satu istri Prabu Siliwangi yang bernama Dewi Kentring Manik Mayang Sunda.
Dari sejarah tersebutlah, maka Sindang Barang menjelma menjadi Desa Budaya yang berusaha meneruskan kearifan lokal dari akar tradisi leluhur mereka.

*babad : karya sastra/cerita yang mengandung unsur sejarah.

Untuk sebagian wisatawan, mungkin sedikit bingung, apa saja yang bisa dilakukan di Desa Budaya Sindang Barang ini.
Apakah hanya berkeliling dan melihat-lihat saja? mencari instagramable spot?
ternyata banyak hal menarik yang bisa dilakukan saat mendatangai Desa Budaya ini.

1. Berinteraksi dengan masyarakat desa.
Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkesempatan berbincang dan berinteraksi dengan warga setempat. Kita terpapar dengan informasi langsung dari sumbernya, asli tanpa perantara. Di sela obrolan kita pun berkesempatan melihat dan meresapi yang menjadi bahan perbincangan.

Saat berkeliling seputaran Desa dan melihat proses renovasi leuit/lumbung padi, obrolan santai dengan beberapa tukang yang sedang memasang lapisan atap leuit pun terjadi. "Daun kirai masih bisa dikumpulkan dari daerah sekitar sini. Asalkan cukup kering, akan tahan hingga 5 tahun ke depan", ujar Bapak dengan penuh semangat. Proses dilakukan secara manual, sangat menarik.
Pemasangan lapisan atap leuit berupa daun kirai pada bagian dalam dan ijuk pada bagian luar.
Daun Kirai yang siap dipasang sebagai pelapis atap leuit/lumbung.
Banyak informasi menarik yang dapat kita peroleh dengan berinteraksi langsung dengan warga lokal.

2. Menyaksikan pertunjukan/atraksi budaya.
Menyaksikan tarian tradisional yang dibawakan secara alami oleh masyarakat Desa memberi nuansa yang berbeda dengan menyaksikan pertunjukan yang dibawakan penari profesional. Apalagi pertunjukan diadakan di halaman terbuka yang asri. 
Alunan musik dan lagu dari berbagai jenis alat musik tradisional yang dibawakan secara live membuat kami yang menyaksikannya merasa begitu tersentuh. Kesederhanaan dan keaslian yang ditampilkan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Secara rutin, setiap hari Sabtu, pukul 10 pagi, diadakan pertunjukan tari-tarian tradisional di lapangan Desa Sindang Barang.
Silahkan atur jadwal kunjungan ke sana!

Inilah beberapa atraksi budaya yang sempat kami saksikan di Desa Budaya Sindang Barang.

Barudak Kaulinan (Permainan Anak)


Dengan berkonstum kebaya, sarung serta selendang warna-warni cerah, sekitar duapuluhan anak perempuan menari, bermain dan berlarian dengan lincah. Aura keceriaan terlihat dan tentu terbawa kepada kami yang menyaksikannya. Sungguh sebuah sajian yang sangat menyenangkan.
Permainan ular-ularan (oyar-oyaran -Sunda), yang cukup familiar bagi kami pun tetap menjadi sangat menarik karena dibawaian dengan lagu Sunda anak-anak.

𝆕𝅘𝅥 ... Oray-orayan luar leor ka sawah
ulah ka sawah parena keur sedeng beukah
oray-orayan luar leor los ka kebon
entong ka kebon, di kebon loba nu ngangon ...𝅘𝅥𝅰𝅗𝅥𝅘𝅥𝅮


Tari Rampak Gendang
Gadis-gadis cantik yang sangat energik membawakan atraksi Rampak Gendang ini. Dengan gerakan sangat kompak mereka menari dan memukul gendang dengan irama yang indah. Beberapa dari kami pun cukup terpana dengan hentakan gendang yang membahana.
Rampak yang berarti serempak, sedang gendang atau kendang merupakan alat musik pukul yang merupakan salah satu instrumen penting dalam gamelan yang berfungsi mengatur irama.
Ada makna filosofi di balik kesenian Rampak Gendang ini. Atraksi ini merupakan cerminan masyarakat Sunda yang guyup serta mengedepankan sifat-sifat ceria dan suka bergotong royong.

Tari Merak
Dengan konsum yang sangat indah, dua penari yang memerankan sebagai sepasang burung merak melenggang lenggok membawakan tarian ini. Sesuai dengan nama tariannya, Tari Merak, kedua penari seolah memerankan sepasang burung merak. Sang merak jantan berusaha memikat merak betina dan kemudian keduanya menari dengan sangat harmonis, mengepakkan sayap, menggerakkan kepala dan terbang ke sana-kemari. Sebuah tarian yang sangat indah.

Gerakan tari Merak ini adalah hasil karya seorang kareografer Jawa Barat, Tjetjep Soemantri di tahun 1950an. Kemudian berkembang dan menjadi salah satu tarian Sunda yang sangat populer hingga pada pertunjukan tingkat internasional.

Angklung Gubrak
Berbeda dengan angklung yang selama ini seringkali kita saksikan dalam berbagai pertunjukan/atraksi, angklung gubrak ini berukuran besar dan dihias dengan kembang wiru pada bagian atasnya, yang akan bergoyang saat angklung dimainkan. Terlihat lebih atraktif. Terbuat dari bambu hitam yang memang banyak ditemukan di Jawa Barat, bambu hitam ternyata dapat menghasilkan bunyi yang lebih nyaring. 

Selain ukurannya yang lebih besar, satu lagi yang membedakan angklung gubrak dengan angklung pada umumnya, angklung jenis ini tidak mempunyai nada, hanya bunyi 'gubrak'.  
Menurut sejarahnya, angklung ini telah ada di Kabupaten Bogor sejak 400 thn yang lalu dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pertanian. Kegiatan Melak Pare (menanam padi), Ngunjal Pare (mengangkut padi) dan Ngadiukeun (menempatkan) ke leuit/lumbung selalu diawali dengan kegiatan Angklung Gubrak.

Masyarakat Sunda meyakini bahwa suara yang keluar dari angklung gubrak ini dapat menggetarkan tumbuhan, sehingga pada akan cepat tumbuh. Inilah yang menjadi alasan penggunaan iring-iringan angklung gubrak pada beberapa kegiatan pertanian di Desa ini.


Jadi siapa yang biasanya memainkan angklung gubrak ini?
Karena acara yang dilakukan berhubungan dengan Dewi Kesuburan, maka pemainnya adalah kaum perempuan. Mereka diharuskan memakai baju kapret & celana pangsi, serta dilengkapi dengan penutup kepala atau iket. Menarik sekali ya.

Parebut Seeng
Pertunjukan ini dibawakan oleh dua orang lelaki berbaju hitam khas Sunda dan merupakan kombinasi cantik antara seni tari dan seni beladiri. Biasanya atraksi ini dibawakan pada upacara khitanan, pernikahan dan saren tahun.

Atraksi ini sebenarnya sederhana saja. Seorang peserta membawa seeng, yaitu tungku nasi tradisional yang diikatkan dibagian punggungnya. Peserta lainnya akan berusaha menyentuh seeng tersebut. Jika demikian maka seeng harus diserahkan kepada peserta yang telah menyentuh seeng tadi.

Ada makna filosofi di balik perebutan seeng tersebut, yaitu bentuk pengendalian diri, karena kemenangan terbesar seseorang sebagai mahluk hidupa adalah bila berhasil mengendalikan hawa nafsunya sendiri.

Tari Mojang Priangan.
Tentu kita ingat sebuah ungkapan 'Tanah Pasundan diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum'.
Maka tak heran jika tanah ini dilimpahi tanah yang subur, indah serta tak lupa... mojang Priangan yang cantik.

Maka inilah tarian yang menceritakan kecantikan dan keelokan itu. Dengan kebaya berwarna cerah serta kain batik Sunda di bagian bawah, dengan riasan minimalis tetapi tetap mengeluarkan aura kecantikan mojang priangan.
Dengan gemulai dan lincah mereka menarikan berbagai gerakan yang memang membutuhkan penguasaan beberapa gerakan tarian.

3. Menikmati sajian khas Sunda.
Menikmati sajian tradisional selalu menjadi hal wajib dalam suatu perjalanan. Melalui makanan lokal setempat, lidah serta indra penciuman kita pun akan semakin akrab dengan tempat baru yang kita datangi. Sesederhanan apapun itu. 

Betapa saya bahagia sekali melihat tumpukan aneka rebusan tersaji di meja balai riungan, sesaat setelah tiba di balai riungan. Sudah cukup lama tidak menikmati makanan ini... pisang rebus yang empuk, ubi rebus yang manis serta jagung rebus yang masih cukup hangat. Ditemani munuman hangat yang tersedia di meja, sambutan akrab khas pedesaan makin terasa.
...dan siang hari itu, kembali kami menikmati sajian makan siang khas Sunda.
Semua masakan hangat itu adalah hasil dapur Desa Sindang Barang.
Raos pisan!

4. Mengadakan workshop di Balai Riungan
Balai Riungan / Aula Desa Sindang Barang
Ide yang sangat brilian, mengadakan workshop di aula desa ini.
IDCorners, saya salut dengan idenya!!
Di Balai Riungan / Aula Desa inilah kami para peserta IDCorners Travel Workshop berkumpul.
Sungguh ini adalah suatu pengalaman saya mengikuti workshop singkat dengan materi yang sangat bermanfaat dan dapat diikuti dengan sangat menyenangkan. 
Bayangkan, workshop dengan duduk santai di aula yang lapang di antara sejuknya udara pedesaan. Tidak hanya itu, materi yang diberikan pun sangat tepat sasaran.
Workshop pertama dibawakan oleh Uni Rai (@raiyanim) tentang Travel Photography.
Uni yang sudah sangat berpengalaman, mengajar dengan sabar, termasuk ketika harus menjawab beberapa pertanyaan saya. Foto-foto Uni yang menjadi contoh bahan  perlajaran ... sungguh luar biasa indah.

Untuk suatu scene, semua orang bisa memotret bersamaan, tetapi hasilnya tentu akan berbeda-beda. Pada akhirnya, "angle-lah yang akan membuat foto kita lebih spesial", itu lah yang paling nyangkut di kepala saya.
Kami ditantang untuk mencoba berbagai sudut pengambilan foto yang lebih ekstrim untuk mendapatkan hasil yang unik.
Maka praktek motret dengan low angle pun menjadi favorit saat praktek motret siang itu.
Mudah-mudahan kami akan semakin berani dan tidak malas bergerak untuk mendapat angle yang berbeda, tidak biasa-biasa saja...
Workhop berikutnya dibawakan oleh Mbak Donna (@travelecturer) mengenai Travel Blogging.
Semua dijelaskan dengan singkat dan padat. Untuk saya, seolah tergugah untuk memperbaiki banyak kekurangan saat penulisan blog. Mengikuti workshop ini, saya seolah mendapat suntikan semangat untuk kembali rajin menulis.
Ada banyak hal yang kembali diingatkan oleh Mbak Donna melalui workshop ini; membuat tulisan yang informatif, deskriptif dan kaya akan pengalaman emosional. Juga untuk menemukan keunikan dari setiap perjalanan serta menuangkannya dalam bentuk tulisan yang menarik.
Bisa gak yaaa??

Satu hal yang menarik adalah acara bertajuk Telisik Budaya Bogor ini didukung oleh Fuji Indonesia, yang menyediakan beberapa camera Fuji XA5 dan Fuji XT100 untuk dicoba. 
Fuji Film X-A5 yang sempat dicoba saat workshop. Foto dari IG fujifilm_id
Ini adalah camera idaman untuk traveling. Selain bentuknya yang cantik dengan ukuran yang praktis untuk dibawa-bawa, flip LCDnya pun sangat menggoda untuk digunakan mencari angle-angle special yang tentu akan membuat foto menjadi makin unik, seperti kata Uni Rai di pelajaran memotret tadi.
Suasana ketika peserta workshop memotret pertunjukan budaya. Difoto dengan menggunakan Camera Fuji XT-100
Mbak Donna saat mengajar Travel Blogging/Writing. Difoto menggunakan Camera Fuji XT-100
Camera Fuji XA-5 dengan 24.2MP APS-C CMOS Sensor dengan tilting LCD dan touch screen pula, tentu akan sangat memudahkan traveler untuk menggunakannya serta menghasilkan foto-foto dengan hasil yang berkualitas baik. Nah jangan lupa, camera ini dilengkapi dengan Bluetooth Connectivity, sehingga para traveler/blogger akan mudah berbagi foto-fotonya tanpa harus mencari laptop untuk mendownload foto. Tinggal transfer ke HP dan share kepada dunia! :))

5. Menginap
Nah, inilah pilihan yang cukup menarik untuk menikmati Desa Budaya Sindang Barang dengan maksimal. Menginap.
Kedua rumah tradisional ini disewakan sebagai tempat penginapan.
Tersedia dua tempat penginapan yang sangat mirip dengan rumah penduduk. Masing-masing berkapasitas 10 dan 20 orang. Tentunya selama menginap kita dapat menikmati berbagai aktifitas di desa, seperti halnya warga setempat.
Tertarik? Jangan lupa untuk mendaftarkan dulu ke pengurus Desa ya.

Desa Budaya Sindang Barang adalah profil peradaban masa lalu yang sarat nilai, sarat budaya, penuh dengan kedamaian, kejujuran, dan spiritual.
Mudah-mudahan Desa Budaya ini tetap terpelihara dan dikelola dengan arif dan bijak.
Sungguh menyenangkan bisa berkesempatan menikmati keunikan Desa ini.
------------------------------
Hidden gems.
Berada di kaki Gunung Salak, bukan berarti Desa Budaya Sindang Barang berada in the middle of nowhere. Berlokasi di lingkung tanah pertanian yang subur, populasi yang cukup padat serta beragam aktifitas tipikal masyarakat majemuk, sekitar Kabupaten Bogor ini menyimpan banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Maka perjalanan ke Desa ini bisa direncanakan untuk sekaligus mengunjungi beberapa tempat menarik lainnya. Ada Pura Hindu, Pabrik Sepatu, Rumah Sutra, bahkan berwisata kuliner pun bisa menjadi alternatif menyenangkan. Jangan lupa, ada beberapa air terjun cantik yang bisa menjadi alternatif tujuan.

Rumah Sutra adalah salah satu tempat yang sempat kami kunjungi. Sungguh di luar dugaan saya, siang itu berkesempatan melihat secara langsung proses yang begitu panjang dan rumit ...dari ulat, daun murbey, hingga proses pemintalan dan menjadi benang kemudian menjadi lembar-lembaran kain yang cantik. Luar biasa.
Ulat yang sedang diberi daun murbey (ki), Melepaskan kokon dari raknya (ka)
Memilah kokon (kepompong ulat sutra) (ki), Alat pintal benang (ka)
Proses menenun benang menjadi kain 
Benang hasil pemintalan (ki), Hasil akhir berupa kain sutra yang cantik (ka)
Cerita panjangnya akan saya tuliskan di posting berikutnya. Mudah-mudahan foto-foto di atas dapat memberi sedikit gambaran mengenai pengalaman asyik kami di sana.

Terima Kasih untuk IDCorners yang telah mengadakan acara keren ini, juga Fuji Film Indonesia yang telah mendukung acara workshop. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan untuk memelihara dan menikmati keindahan tanah air tercinta ini.

Labels: #IDCornersTravelWorkshop #Fujifilm

posted by Vania at 10:44 PM 0 comments

Tuesday, September 25, 2018

Cerita Bumbu Dapur Indonesia

Setelah 15 purnama berlalu, akhirnya artikel ini saya 'pajang' di blog ini.
Ini adalah tulisan saya (sebelum diedit oleh pihak editor) yang kemudian tayang di Majalah Linkers, Citilink in-flight magazine, Juni 2017.
  
Saat itu saya berkesempatan menjadi salah satu kontributor untuk edisi kuliner tersebut. Tugas saya menulis tentang Bumbu Dapur Indonesia, termasuk sejarahnya. Dilengkapi pula dengan foto-foto hasil jepretan saya.
Enjoy!
-------------------------------------------
Rahasia Dapur Indonesia
Pagi tadi, sekantong belanjaan saya letakkan di atas meja dapur, kemudian satu persatu bahan masakan dari pasar tradisional, saya keluarkan. Selain bahan utama; ayam, kentang, telur, serta sayuran, menyusul satu persatu bumbu serta rempah saya letakkan pada satu wadah.
Ada beberapa batang sereh, sepotong lengkuas dan jahe, beberapa potong kunyit, kemiri, ketumbar, cengkeh dan tak lupa bawang putih dan bawang merah.
Terkesan saya akan masak besar hari ini. Jawabannya tidak. Itu adalah bahan-bahan yang saya perlukan untuk membuat soto ayam favorit keluarga kami.

Terlihat begitu rumit, tapi setelah diolah, dari bahan-bahan tersebut akan tersaji makanan berkuah gurih yang sangat lezat. Soto Ayam adalah salah satu menu berkuah khas Indonesia yang sangat kaya bumbu. Menu yang cukup populer dan digemari sepanjang masa.
Seperti halnya soto ayam, kekhasan masakan Indonesia terletak pada kekayaan rasa dan keragamannya. Pemakaian bumbu dapur juga aneka rempah merupakan kunci kelezatan cita rasa hidangan Indonesia dan keunikan itulah yang kemudian membedakan makan khas dari satu daerah dengan makanan dari daerah lainnya.
Ketersediaannya serta adanya berbagai pengaruh budaya memegang peranan penting dalam pemakaian aneka rempah tersebut.

Saat menyiapkan bumbu-bumbu soto; membersihkan, mengupas, memotong kemudian mengulek-nya, pikiran saya melayang dan teringat akan salah satu kalimat menarik pada film fiksi ilmiah ‘Dune’;
‘He who control the spice, controls the universe’. (Mereka yang menguasai rempahlah yang menguasai semesta). Kalimat tersebut kemudian membangunkan ingatan saya pada pelajaran masa SD-SMP mengenai jalur perdagangan, di masa para pelayar dari berbagai negara mencari dan berusaha menguasai rempah di tanah Maluku, hingga kedatangan Portugis.
Rempah dan aneka bumbu dapur adalah kekayaan yang begitu bernilai tinggi dan tidak dapat dihasilkan ataupun ditemukan di sembarang tempat.

Lalu mengapa tidak semua daerah di Nusantara ini menggunakan rempah yang tersedia tersebut. Ternyata cerita tentang penyebaran rempahlah yang kemudian mempengaruhi pemakaiannya pada masakan khas tiap daerah.
Jauh sebelum Portugis mendarat di Ternate, rombongan pedagang Arab telah lebih dahulu menikmati rempah-rempah di Maluku. Kemudian hadir pula para pedagang dari Cina, Malaka, Gujarat juga dari Jawa dan Makassar untuk berburu cengkeh dan pala yang banyak ditemukan di Maluku. Setelah berabad-abad lokasi rempah-rempah ini dirahasiakan oleh saudagar Arab dan Cina, kapal Portugis membuang sauhnya di Ternate (1512) disusul dengan datangnya kapal-kapal Spanyol dan kemudian disusul oleh kedatangan bangsa Inggris dan Belanda.

Jalur perdagangan rempah ini kemudian memberi banyak pengaruh pada khazanah kuliner daerah di Nusantara. Salah satu fakta menarik adalah bahwa Aceh yang awalnya hanya bertanam lada dan bukan penghasil rempah seperti halnya di Maluku, kemudian memiliki kuliner khas yang sangat kaya bumbu dan rempah. Bayangkan, masakan khas Aceh memakaian 20 lebih jenis rempah dalam satu jenis masakan.
Ternyata, ratusan tahun lalu Aceh pernah menjadi hub atau penghubung jalur pelayaran kapal-kapal pembawa rempah yang menghubungkan Maluku dengan India dan Arab, saat Portugis menguasai Malaka. Kapal-kapal pembawa rempah bersandar di pelabuhan di sana dan Acehpun menjadi tempat peleburan budaya, termasuk masakan yang menggunakan rempah-rempah sebagai sumber kelegitannya.

Pulau Jawa pun punya cerita yang berbeda tentang penggunaan rempah.
Kota-kota di bagian selatan Jawa seperti halnya Solo dan Yogyakarta tidak banyak menggunakan rempah kering. Berbeda dengan Pekalongan yang letaknya di pesisir utara dan sering didatangi pedagang Arab dan Cina, seni kuliner di daerah ini terpengaruh dengan budaya pedagang yang singgah di sana.

Sebagai pencinta kuliner yang seringkali penasaran dengan pemakaian bumbu dan rempah serta penggunaan metoda memasak yang dipilih warga lokal dalam mempersiapkan masakan khasnya, saya menemukan cerita-cerita menarik tentang penggunaan bumbu dan rempah pada beberapa masakan khas daerah di Indonesia.

Secara umum bumbu dapur Indonesia terbagi atas Bumbu Segar, Bumbu Kering dan Bumbu Buatan. Mari berkenalan dengan beberapa bumbu khas pada kuliner Indonesia.

Andaliman
Jika menemukan cita rasa pedas pada masakan khas Batak, dapat dipastikan pedas yang khas itu berasal dari andaliman.

Andaliman yang juga dikenal sebagai ‘merica batak’, menyatukan keberagaman masakan khas suku Batak. Bumbu ini digunakan hampir merata pada berbagai kuliner suku-suku di Sumatra Barat.
Biji andaliman sebesar merica, berwarna hijau cerah dengan ranting-ranting kecil. Bumbu dapur ini berasal dari pohon berduri mirip ceri dan dipetik selagi segar dan tahan disimpan beberapa hari. Warnanya akan berubah menjadi kehitaman jika sudah tua. Fakta yang cukup menarik adalah bahwa andaliman tumbuh secara alami, tidak dibudidayakan.

Penggunaan andaliman sebagai bumbu dapur ini cukup praktis. Cukup petiki biji yang segar dan utuh lalu haluskan bersama bumbu lain atau dapat pula dicampurkan ke dalam bumbu yang telah disiapkan sebelumnya. Bumbu satu ini tidak tergantikan oleh jenis bumbu lain misalnya digantikan cabai atau merica. Sensasi rasa pedas yang membuat ‘lidah bergetar’ itulah yang membuatnya unik dan khas.
Kaskas
Nama bumbu satu ini mungkin kurang populer di telinga masyarakat Indonesia. Tapi tahukan anda bahwa di balik lezatnya Kari Kambing yang cukup populer di Aceh, butiran-butiran rempah kaskas memegang peranan penting pada kegurihan dan empuknya daging kambing yang tersaji di setiap mangkok hidangan berkuah kental tersebut.

Kaskas berbentuk butiran yang cukup halus, mirip dengan pasir berwarna coklat kekuningan. Mungkin anda cukup mengenal ‘poppy seed’ yang berwarna hitam dan biasanya digunakan untuk bahan membuat kue. Kaskas yang juga dikenal sebagai ‘white poppy seed’ inipun adalah salah satu jenis biji dari tanaman poppy.

Di tempat asalnya di Timur Tengah, bumbu satu ini dikenal dengan sebutan kashakish, sementara orang Aceh menyebutnya koca-kaci.
Cerita tentang posisi Aceh yang pada masa lalu menjadi pelabuhan ‘transit’ kapal-kapal pembawa rempah antara Maluku dengan India dan Timur Tengah adalah jawaban tentang kehadiran kaskas yang merupakan rempah Timur Tengah di Tanah Rencong dan menjadi rempah andalan pada kuliner Aceh hingga kini.

Rampa-Rampa Campur
Rampa-rampa adalah bahasa Minahasa untuk menyebut rempah-rempah, yang sebenarnya maksudnya adalah bumbu.
Bila akan menanyakan bumbu apa yang dipakai dalam masakan tertentu, mereka akan bertutur,’Rampa-rampanya apa ya?’

Jadi Rampa-Rampa Campur adalah campuran bumbu-bumbu, dalam hal ini yang dimaksud adalah daun-daunan yang telah disatukan. Di daerah Minahasa, istilah Rampa-Rampa Campur cukup disingkat dengan RRC.

Kuartet bumbu serai, kemangi, daun kunyit dan daun jeruk yang dijual sepaket di pasar-pasar Sulawesi Utara inilah yang dikenal dengan Rampa-Rampa Campur. Mengapa keempatnya dijual sepaket?
Hampir semua masakan Minahasa menggunakan campuran daun-daunan ini, kemudian tinggal ditambahkan bumbu ataupun rempah non daun lainnya yang diperlukan pada masakan.
Lemon Cui
Sebenarnya ada berbagai jenis ‘jeruk kecil’ penambah aroma dan rasa pada kuliner Indonesia. Yang cukup populer adalah Jeruk Nipis, Jeruk Limau yang juga dikenal dengan Jeruk Sambal, Jeruk Purut dan Jeruk Lemon.
Di khazanah kuliner Minahasa, Jeruk Lemon Cui adalah yang paling populer. Rasanya menikmati ikan bakar maupun sambal di Sulawesi Utara kurang lengkap tanpa kucuran Lemon Cui. Jeruk ini memberi rasa segar pada masakan.

Dari segi bentuk, sepintas lemon cui adalah bentuk mini dari jeruk pontianak, dengan ukuran diameter 2-2,5 cm. Memiliki kulit yang tipis, berwarna hijau tua, licin dan daging buahnya lunak, berwarna orange.
Karena kandungan air yang cukup banyak, lemon cui pun dapat digunakan untuk membuat sajian minuman jeruk peras.

Kluwek
Buah berkulit keras berwarna coklat keabu-abuan ini cukup banyak digunakan pada berbagai jenis masakan Nusantara. Jika anda menemukan makanan berkuah ataupun berbumbu kehitaman, kemungkinan kluwek lah pemberi warna pekat tersebut juga memberi rasa gurih pada masakan.
Rawon khas Jawa Timur, Sop Konro khas Makassar, Pucung Gabus khas Betawi, Papiong (hidangan sayur-daging dalam bamboo) khas Toraja, Sulawesi Selatan, hingga Bubur Payang (kluwek) campur bunga blusut, hidangan khas Dayak adalah sebagian makanan khas Indonesia yang menggunakan kluwek sebagai salah satu bumbunya.

Bentuk buah kluwek ini menyerupai segitiga yang tumpul ujung-ujungnya. Dibalik kulit yang keras, kita akan menemukan daging buah yang lunak berwarna coklat tua kehitaman. Bagian isi inilah yang digunakan untuk memasak. Jika anda mampir ke beberapa pasar tradisional di Tana Toraja, anda dapat menemukan beberapa pedagang yang menjual isi kluwek, jadi tidak perlu lagi membeli buah-buah kluwek. Hanya saja, kluwek yang disimpan bersama kulitnya akan lebih awet.

Saat membeli kluwek, pilihlah yang ringan kemudian goyang-goyangkan kluwek, apabila terdengar bagian isi yang terguncang berarti kluwek sudah cukup tua dan siap untuk digunakan.
Tauco Pekolangan
Tauco merupakan salah satu jenis bumbu buatan yang dihasilkan dengan melalui proses fermentasi. Hadirnya jenis bumbu ini tidak lepas dari pengaruh Cina dalam khazanah kuliner Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia memproduksi tauco, yang memiliki keunikan rasa yang berbeda-beda.

Sebagai salah satu kota pesisir utara Jawa yang menjadi tempat persinggahan pedagang Cina pada masa perdagangan rempah, kuliner Pekalongan tentu terimbas dan tauco adalah salah satu hasil imbasan yang paling terlihat.

Di balik Tauto Pekalongan, soto yang sangat populer dengan cita rasa yang unik maka perlu diketahui bahwa tauco khas Pekalongan memegang peranan penting pada kelezatan kuah soto tersebut. Keunikan tauco Pekalongan adalah kepekatannya yang lebih dibandingkan dengan tauco pada umumnya, aromanya tajam, dan rasanya sedikit lebih manis karena tambahan gula merah pada proses pembuatannya.
Kayu Secang
Jika anda penggemar Bir Pletok, minuman hangat non alkohol khas Betawi, ataupun Bir Kocok khas Bogor, atau Wedang Secang khas Yogyakarta, tidak perlu lagi merasa khawatir dengan warna merah pada minuman-minuman tersebut, karena warna merah tersebut berasal dari pewarna alami kayu secang.

Apa sebenarnya kayu secang?
Kayu secang yang digunakan sebagai bumbu dapur berasal dari batang kayu Secang yang diserut halus hingga bergelombang.
Serutan kayu secang ini, jika direbus bersama air perebus wedang ataupun minuman tradisional lainnya, akan meninggalkan warna merah alami yang cantik sekaligus memberi rasa legit.

Tidak banyak informasi tentang kehadiran tanaman ini di Indonesia, yang pasti pohon secang pun sudah cukup lama ditanam di India, Asia Tenggara hingga Pasifik dan dimanfaatkan untuk keperluan kuliner dan pengobatan herbal karena khasiatnya yang cukup banyak bagi kesehatan.
Lada Katokkon
Sepintas bentuknya mirip dengan paprika mini. Di balik bentuknya yang terlihat menggemaskan, lada katokkon dikenal karena tingkat kepedasannya yang tinggi. Ke pasar tradisional manapun di Toraja, cabe jenis ini akan ditemukan.

Cabe super pedas ini tumbuh subur di dataran tinggi Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dan dimanfaatkan pada berbagai jenis masakan khas Tana Toraja yang sebagian besar bercita rasa pedas. Sajian khas Toraja, tidak akan lengkap tanpa sentuhan lada katokkon ini. Kini lada katokkan dijual dalam kemasan botol kecil dan sangat cocok dijadikan oleh-oleh khas Tana Toraja.
-----------------
Akhirnya soto ayam masakan saya siap dinikmati.
Aneka bumbu dan rempah terpadu dengan harmonis, meresap dalam suwiran ayam dan kuah soto yang gurih. Tanpa bumbu dan rempah, tidak pernah akan tercipta hidangan khas Nusantara yang selalu kita rindukan.

posted by Vania at 4:33 PM 0 comments

About Me

Name: Vania

View my complete profile

contact me : vsamperuru@yahoo.com

*Please do not use my photographs without my permission*

*Mohon tidak menggunakan foto-foto saya tanpa izin*

proud member of

Gede

BPN

ID Corners
www.flickr.com
The Samperuru's V-Recipes - the food photoset The Samperuru's V-Recipes - the food photoset

BAdv
  • Jakarta
  • Jakarta Festivals
  • Pasar Punclut, Bandung
  • Lunar New Year 2562, Jakarta
  • Lunar New Year 2563, Jakarta
  • Cirebon, West Java
  • Semarang, Central Java
  • Solo, Central Java
  • Domas Crater, West Java
  • Jatiluhur, West Java
  • Ciwidey, West Java
  • Sukawana Tea Plantation
  • Pasar Badung, Denpasar, Bali
  • Bali Beaches
  • Bali Highland
  • Jogjakarta
  • Sorowako
  • Singapore (traveloka)
  • Tana Toraja
  • hidden gem : Tana Toraja
  • Mumbai, India
  • Jelajah Gizi Minahasa
  • *CAMPING GROUND*
  • *TRADITIONAL MARKET*

Previous Posts

  • Alunan Budaya di Desa Sindang Barang.
  • Cerita Bumbu Dapur Indonesia
  • Inspirasi Masakan India pada Sajian Rumah khas Ram...
  • Enjoying Korean Cuisine in Seoul Yummy, Jakarta.
  • Tiga Sajian Lezat & Sehat dengan Skippy Peanut But...
  • Liburan Makin Asyik Bersama Anak-anak.
  • Menikmati Warna-warni Pasar Tradisional & Jajanan ...
  • Tiga Sajian Lezat dengan Gizi Seimbang So Good.
  • Kopi Pukul 7 Pagi & 4 Sore #KapalApiPunyaCerita
  • #JadiBisa Memilih Hotel Sesuai 'Travel Style'.

Archives

  • June 2005
  • July 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • February 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • June 2007
  • August 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008
  • December 2008
  • January 2009
  • February 2009
  • March 2009
  • April 2009
  • May 2009
  • June 2009
  • July 2009
  • August 2009
  • September 2009
  • October 2009
  • November 2009
  • December 2009
  • January 2010
  • February 2010
  • March 2010
  • April 2010
  • May 2010
  • June 2010
  • August 2010
  • September 2010
  • October 2010
  • November 2010
  • December 2010
  • January 2011
  • February 2011
  • March 2011
  • April 2011
  • May 2011
  • July 2011
  • August 2011
  • September 2011
  • October 2011
  • November 2011
  • December 2011
  • January 2012
  • February 2012
  • March 2012
  • April 2012
  • May 2012
  • June 2012
  • July 2012
  • August 2012
  • October 2012
  • November 2012
  • December 2012
  • January 2013
  • February 2013
  • March 2013
  • April 2013
  • May 2013
  • June 2013
  • July 2013
  • October 2013
  • November 2013
  • December 2013
  • April 2014
  • June 2014
  • July 2014
  • August 2014
  • January 2015
  • April 2015
  • June 2015
  • August 2015
  • September 2015
  • October 2015
  • December 2015
  • January 2016
  • February 2016
  • March 2016
  • May 2016
  • June 2016
  • August 2016
  • September 2016
  • November 2016
  • December 2016
  • January 2017
  • April 2017
  • May 2017
  • June 2017
  • July 2017
  • August 2017
  • September 2017
  • December 2017
  • March 2018
  • April 2018
  • May 2018
  • June 2018
  • September 2018
  • September 2019

Powered by Blogger